
Arsenal: Mengalahkan Real Madrid, Kembali ke Empat Besar
Arsenal kembali ke semifinal Liga Champions untuk pertama kalinya sejak musim 2008/2009. Setelah lama terpuruk dan bahkan absen dari kompetisi ini, musim ini The Gunners di bawah arahan Mikel Arteta menunjukkan kematangan luar biasa. Mereka menyingkirkan Real Madrid dengan agregat 5-1, serta tampil disiplin di dua fase permainan.
Arteta menerapkan pendekatan menyerang berbasis struktur, dengan rotasi posisi di lini tengah dan sayap. Martin Ødegaard berperan sebagai pengatur ritme, sementara fullback sering masuk ke tengah saat menyerang, menciptakan superioritas jumlah.
Paris Saint-Germain: Konsistensi yang Mulai Membentuk Identitas
PSG terus berusaha meraih gelar Liga Champions pertama mereka. Pencapaian terbaik dalam satu dekade terakhir terjadi pada musim 2019/2020 saat mereka mencapai final (kalah dari Bayern Munchen 0-1). Mereka juga mencapai semifinal pada musim 2020/2021.
Musim ini, Luis Enrique membawa pendekatan baru yang lebih terstruktur. Ia memanfaatkan lini tengah kreatif serta menggunakan Khvicha Kvaratskhelia dan Ousmane Dembélé secara dinamis di lini depan. PSG melaju impresif dengan permainan kolektif yang tajam.
Barcelona: Dari Transisi ke Ambisi Juara Lagi
Barcelona sempat kehilangan dominasi Eropa sejak menjuarai Liga Champions 2014/2015. Mereka mencapai semifinal pada musim 2018/2019 sebelum dikalahkan oleh Liverpool dengan comeback legendaris.
Musim ini, di bawah Hansi Flick yang menggantikan Xavi Hernández, Barca kembali ke semifinal dengan gaya yang lebih agresif. Flick membawa pressing ketat dan struktur yang mirip dengan yang ia gunakan bersama Bayern Munchen saat menjuarai Liga Champions 2019/2020. Pemain muda seperti Lamine Yamal dan Pedri jadi tumpuan dengan permainan vertikal cepat yang mendobrak blok rendah lawan.
Inter Milan: Konsistensi Adalah Kunci
Inter Milan menunjukkan tren positif di Liga Champions dalam beberapa tahun terakhir. Setelah mencapai final pada musim 2022/2023 (kalah 0-1 dari Manchester City), Nerazzurri kembali menegaskan tempat mereka di puncak Eropa dengan mencapai semifinal musim ini.
Di bawah Simone Inzaghi, Inter mengandalkan organisasi pertahanan rapat dan efisiensi serangan balik. Federico Dimarco dan Denzel Dumfries berperan vital sebagai wing-back, sementara Lautaro Martínez menjadi pemimpin di lini depan. Taktik pragmatis tapi efektif membuat Inter menjadi tim yang sulit ditembus.
Semifinal Liga Champions musim ini tidak hanya menjadi arena pertarungan antar pemain top, tetapi juga duel strategi para pelatih kelas dunia. Arsenal hadir dengan revolusi taktik Mikel Arteta, PSG menemukan keseimbangan di bawah Luis Enrique, Barcelona bangkit lewat filosofi Hansi Flick, dan Inter Milan tetap konsisten lewat pendekatan Simone Inzaghi. Masing-masing klub membawa kisah panjang dan perkembangan signifikan dalam beberapa musim terakhir.