Laga pertama di Etihad Stadium berakhir 4-3 untuk kemenangan Manchester City. Meskipun kalah, Real Madrid mencetak tiga gol tandang yang memberi harapan. Karim Benzema jadi bintang dengan dua gol, termasuk penalti panenka yang dingin di menit-menit akhir.
Real Madrid tertinggal 0-1 (3-5 agregat) hingga menit ke-89. Banyak fans sudah mulai pasrah. Namun dalam waktu dua menit, segalanya berubah.
Menit 90: Rodrygo menyambar umpan dari Benzema. 1-1 (4-5 agregat)
Menit 91: Rodrygo lagi! Kali ini dengan sundulan tajam. 2-1 (5-5 agregat)
Extra Time: Penalti Benzema. 3-1! Madrid unggul agregat 6-5 dan melaju ke final.
Atmosfer Bernabéu malam itu benar-benar magis. Comeback ini langsung masuk ke dalam sejarah Liga Champions sebagai salah satu yang paling dramatis sepanjang masa.
Apa yang membuat comeback ini begitu ikonik?
Mental Juara
Real Madrid tidak panik meski waktu hampir habis. Mereka tetap menyerang, tetap percaya, dan tidak menyerah.
Karakter Pemain
Benzema, Modric, Rodrygo, dan rekan-rekannya sudah kenyang pengalaman. Mereka tahu bagaimana mengelola tekanan dan memanfaatkan momen.
Aura Santiago Bernabéu
Stadion ini seperti punya kekuatan gaib. Banyak lawan datang dengan keunggulan, tapi pulang dengan kekalahan.
Di leg pertama semifinal melawan Arsenal musim ini, Real Madrid kalah telak 0-3. Tapi bukan berarti semuanya selesai.
Flashback ke comeback lawan City jadi pengingat:
“Selama masih ada menit tersisa di Bernabéu, apa pun bisa terjadi.”
Arsenal memang tangguh, tapi mereka akan menghadapi tim yang sudah berulang kali membalikkan takdir. Dan yang terpenting, Real Madrid bermain di kandang.